Banjir Sumatra dan Pelajaran Penting dari Hilangnya Hutan Alami

Banjir dan longsor yang kembali terjadi di Sumatera bukan hanya soal hujan deras. Di balik bencana ini, ada persoalan lingkungan yang sudah lama terjadi, tetapi sering diabaikan: rusaknya hutan dan melemahnya daya tahan alam Sumatera.

Pakar ekofisiologi tumbuhan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Taufikurahman, menjelaskan bahwa banjir dan longsor biasanya terjadi ketika hujan lebat turun di wilayah yang sudah tidak mampu lagi menyerap air. Di banyak daerah di Sumatera, kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan hutan alami menjadi lahan perkebunan skala besar, terutama kelapa sawit.

Hutan alami bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah sistem alam yang rumit dan saling terhubung. Di dalamnya terdapat pohon-pohon besar dengan akar yang menembus jauh ke dalam tanah, lapisan daun dan ranting kering yang menutupi permukaan tanah, serta organisme tanah yang menjaga kesuburan.

Semua unsur itu membuat tanah hutan menjadi gembur dan kuat, sehingga mampu menyimpan air hujan dalam jumlah besar. Tajuk pohon juga berfungsi menahan dan memperlambat jatuhnya air hujan, sehingga air tidak langsung menghantam tanah. Aliran air pun lebih terkendali dan erosi bisa ditekan.

Di daerah perbukitan dan lereng curam, akar pohon hutan berperan penting sebagai penahan tanah alami. Saat hujan deras turun, akar-akar ini membantu menjaga tanah tetap stabil dan tidak mudah longsor.

Di tengah masyarakat, masih ada anggapan bahwa perkebunan kelapa sawit bisa menggantikan peran hutan karena sama-sama ditumbuhi pohon. Menurut Taufikurahman, anggapan tersebut tidak tepat.

Perkebunan sawit merupakan sistem tanam tunggal dengan jarak antar pohon yang cukup renggang. Kondisi ini membuat air hujan langsung jatuh ke tanah tanpa banyak penghalang. Akar sawit juga relatif dangkal, hanya sekitar 1,5 hingga 2 meter, sehingga tidak cukup kuat untuk menahan tanah atau menyerap air secara maksimal.

Akibatnya, ketika hujan deras turun, air lebih banyak mengalir di permukaan tanah. Aliran air ini mengikis tanah, mempercepat erosi, dan meningkatkan risiko banjir serta longsor. Selain itu, kurangnya variasi tanaman membuat kesuburan tanah menurun. Penggunaan pupuk dan pestisida dalam jangka panjang juga dapat merusak kehidupan organisme tanah.

Hutan alami telah terbentuk dan berfungsi selama ratusan tahun. Ketika hutan ditebang atau diganti dengan tanaman budidaya, fungsi penting tersebut hilang dalam waktu singkat. Sistem pengaturan air yang sebelumnya seimbang menjadi rusak, dan wilayah tersebut menjadi lebih rentan terhadap bencana.

Banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera saat ini menjadi bukti nyata dari kerusakan tersebut. Air yang seharusnya terserap dan mengalir perlahan kini berubah menjadi arus deras yang membawa lumpur, batu, dan merusak permukiman di daerah hilir.

Memulihkan kembali fungsi hutan bukanlah pekerjaan mudah. Restorasi membutuhkan data jenis tanaman lokal, penyediaan bibit pohon asli, serta perbaikan kondisi tanah yang sering kali sudah rusak. Lahan bekas perkebunan sawit atau tambang umumnya padat, miskin unsur hara, dan bersifat asam, sehingga perlu penanganan khusus.

Jika dibiarkan begitu saja, pemulihan alam bisa memakan waktu sangat lama, bahkan ratusan tahun. Namun, dengan perencanaan yang baik dan upaya yang konsisten, proses ini bisa dipercepat menjadi beberapa puluh tahun. Keberhasilan restorasi tidak hanya bergantung pada alam, tetapi juga pada kebijakan, pendanaan, dan komitmen jangka panjang.

Banjir dan longsor di Sumatera seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Bencana ini menunjukkan bahwa alam memiliki batas. Ketika fungsi lingkungan diabaikan, dampaknya pada akhirnya kembali dirasakan oleh manusia.

Hutan alami bukan hanya sumber ekonomi, tetapi penopang kehidupan. Tanpa perlindungan dan pengelolaan yang bijak, hujan deras di masa depan akan terus berubah menjadi ancaman bagi masyarakat Sumatera.

 

Kontributor: Khafifah Qonitah Alawiyah

Editor: Khafifah Qonitah Alawiyah